FLASHNEWS

Cerpen : Alene, Noni Belanda


Oleh Indah Wiharti
Hari itu………
Terlihat kesibukan di ruang Bimbingan Konseling (BK), beberapa murid mondar-mandir di ruang tersebut. Pak Greg, Bu Nung, Bu Hayati, dan Bu Wahyu juga terlihat keluar masuk ruangan. Tampak ada ketegangan dan suasana yang kurang menyenangkan, kuhampiri mereka, setengah berbisik aku menanyakan apa yang terjadi? Kata mereka, terdengar suara tangisan yang menyayat hati namun mereka tidak menemukan siapa gerangan yang menangis, sesaat kami semua diam. Kami saling berpandangan, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, ada ketakutan yang merasuk hati, jujur aku penasaran dan sedikit meragukan cerita mereka. Namun tiba-tiba bulu kudukku berdiri, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil, tak seperti biasanya. Kami pun bubar, kembali menunaikan tugas.


Genap tujuh hari dari kejadian tersebut, Selasa Kliwon,  pukul 17.15 WIB. Aku masih sibuk menyelesaikan tugas, kebetulan hari Selasa ini hari terakhir mengumpulkan naskah lomba menulis  cerita pendek yang diadakan oleh salah satu lembaga pendidikan di Yogyakarta. Di ruang guru, tinggal aku seorang diri semua rekan sudah meninggalkan sekolah beberapa jam yang lalu, sunyi, sepi. 


Senja hari semakin beranjak gelap, aku merasakan suasana sore ini tidak seperti biasanya, penjaga sekolah pun tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengar  suara tangisan seorang gadis yang menyayat hati, memecah keheningan, tangisan itu begitu dekat dari posisi aku duduk. Reflek,  aku langsung mencari sumber  tangisan tersebut.  Ada sedikit keraguan,  (mungkin rasa takut yang merasuki pikiranku),  aku berjalan menyusuri salah satu ruang di sekolahku, kubuka pintu ruang konsultasi ( ruang yang biasa digunakan oleh guru BK menasihati siswa yang bermasalah) namun tidak kutemukan siapa pun. 

Tiba-tiba aku melihat di sudut ruang seorang gadis remaja menangis sesenggukan, kuraih tangannya, kubantu berdiri. Kuajak duduk di kursi tua di dekat kami berdiri, kuambil tissu  kuberikan pada gadis tersebut. Mata gadis itu terlihat sembab pertanda ia sudah cukup lama menangis, kemudian dengan jari lentiknya ia mengusap air mata yang masih membasahi  wajah   dengan tissu yang kuberikan tadi. 

Sejenak kami berdua saling diam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut gadis tersebut, ada yang berbeda. Wajahnya, rambutnya, kulitnya….

Aku berusaha memecah kesunyian  dengan  mengajak gadis itu berkenalan, kuulurkan tangan: “Namaku Wita, siapa namamu?”

Gadis itu menjawab dengan suara parau, terbata-bata dan terdengar berbeda dengan kami, dia menyebut sebuah nama yang asing bagiku. “Namaku Alene…”

(Alene, berasal dari kosa kata bahasa Belanda sama dengan Alone dalam bahasa Inggris yang mempunyai arti sendiri), Alene menjelaskan arti nama dirinya, sepertinya dia bisa membaca  pikiranku yang sedang bertanya-tanya arti nama Alene. Sekalipun baru saja bertemu tapi ada perasaan dekat dan akrab seperti pernah bertemu sebelumnya, Alene merasa menemukan teman dalam kesendiriannya. Semoga aku bisa membantu menyelesaikan masalah yang dialami Alene, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untuknya.

Ada kekaguman memandang wajah Alene, Alene begitu cantik, gadis remaja berusia 15 tahun, tinggi semampai, kulitnya putih bersih kemerah-merahan, rambutnya sebahu (pirang mengkilat bila terkena sinar matahari), gaun putih yang dikenakan menambah anggun penampilan Alene. Tiba-tiba suara Alene memecah keheningan sekaligus membuyarkan lamunanku. 

“Yuuuk, mampir rumahku, dekat kog sebelah timur gedung ini”. Aku mengangguk menyetujui ajakannya. 
Berdua saling bergandeng tangan beranjak dari kursi tua tempat kami duduk. Tak jauh dari ruang ini, ada rumah joglo yang lumayan besar, sekalipun rumah kuno tetapi tampak  bersih dan asri. Pepohonan di depan rumah Alene menambah suasana rumah menjadi lebih sejuk. Alene mempersilakan aku duduk di ruang tamu, sementara Alene izin ke dapur untuk mengambil air minum.

Aku beranjak dari kursi dan  berjalan mendekati sebuah foto keluarga yang ditempel di dinding ruang tamu, mengamati foto keluarga Alene aku merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati….

“Itu keluargaku, Wit. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, dua kakakku kuliah di negeri Belanda. Papi dan mamiku ditugaskan di Kedu ini sebagai seorang peneliti di bidang pertanian dan perkebunan”. 

Alene menjelaskan foto keluarganya, tampaknya Alene tahu bahwa aku penasaran. Sambil meletakkan dua gelas teh manis di meja, Alene mempersilakan aku  minum dan menyodorkan buah-buahan segar kepadaku.  Alene merebahkan badan di kursi kemudian melanjutkan kisah hidupnya, menurut penuturan Alene, ia tinggal di negeri ini sejak berusia tiga tahun. Namun tinggal di daerah Kedu baru sekitar dua tahun,  tugas  orang tua Alene sering pindah dari satu kota ke kota yang lain. Hal yang membuat ia bersyukur adalah orangtuanya mengizinkan untuk berteman dengan siapa saja termasuk dengan anak-anak pribumi. Alene menunjukkan sebuah foto yang lain, foto masa kanak-kanak di situ ada beberapa teman Alene yang berkulit sawo matang.

Pandanganku terhenti ketika di salah satu sudut ruangan tergantung kalender yang menunjukkan angka tahun 1839. Wah, benar-benar rumah kuno,  pikiranku sedikit terganggu dan ada perasaan takut. Alene mengajakku berbincang kembali, bercerita tentang banyak hal di masa kecilnya. Tiba-tiba wajah Alene tampak sedih……

Kuberanikan bertanya, “Sudah cukup lama aku di sini, kog papi dan mami kamu tidak pulang Lene? “
Alene menghela napas panjang……

“Aku tinggal seorang diri,” suara Alene hampir tak terdengar. 
Kemudian Alene beranjak dari tempat duduknya, berjalan pelan ke arah jendela,  kedua tangannya memegang daun jendela, aku berdiri di samping Alene. 

“Aku membutuhkan seorang teman, teman yang mau mendengarkan keluh kesahku. Maukah kamu mendengarkan kisahku Wit? Siapa tahu setelah bercerita beban yang menyesakkan dada selama ini bisa sedikit berkurang”. Alene menatapku dengan tatapan sendu dan penuh harap….

“Tentu Lene…, aku akan mendengarkan kisahmu.” jawabku.

“Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa aku sering menangis, ketika aku kesepian dan ingat orang-orang yang sangat aku kasihi, mereka sekarang jauh dari diriku, aku tinggal seorang diri.” Air mata Alene berjatuhan, aku merasakan kepedihan yang dirasakan Alene.

“Dimana mereka, Ayah-Bundamu,?” tanyaku dengan perasaan penasaran.

Alene menatap wajahku, kemudian menuturkan kembali perjalanan hidup yang membuatnya berduka. 

“Papi dan Mamiku telah kembali ke Negeri Belanda, tidak hanya kepergian kedua orangtuaku yang membuat aku merana, aku juga kehilangan sahabat yang sangat aku sayangi. Sahabat dalam suka dan duka, dialah yang selalu mendampingiku dan mengajariku banyak hal. Sahabatku itu yang mengajariku berbahasa Melayu hingga aku lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu. Prehananto, begitu nama lengkapnya. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Hananto. Usianya satu tahun lebih tua dari usiaku”, begitu kata Alene. 

Kuperhatikan wajah Alene berubah berbinar tatkala ia menuturkan tentang sahabatnya itu. Barangkali Alene menyimpan perasaan suka terhadap Hananto, aku menebak isi hati Alene.

“Dimanakah Hananto tinggal saat ini, Lene?” Tanyaku penuh harap. Alene menghela napas panjang mendengar pertanyaanku. 

“Tak tahu dimana ia sekarang berada, setiap saat aku merindukan kehadirannya, entah kapan kami akan dipertemukan kembali, Wit”. Mata Alene menerawang jauh, tatapannya kosong.

“Yakinlah, Lene. Suatu hari nanti Tuhan pasti mempertemukan kalian,” kataku memberi motivasi.

“Yach semoga….,” Alene mendesah. “Andai peristiwa itu tidak terjadi, hidupku mungkin tidak akan seperti ini, terlunta-lunta seorang diri”.

“Bolehkah aku mengetahui peristiwa apa itu,Lene?”. Seketika wajah Alene pucat pasi, kesedihan tampak nyata terbaca dari wajah ayu Alene. Ada perasaan bersalah sebab aku bertanya tentang sesuatu yang membuat sahabat baruku ini berduka, aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar Alene tidak semakin berduka. Tetapi dengan terbata Alene meneruskan cerita hidupnya. 

“Hari itu,  kami  sekeluarga akan kembali ke Batavia dan selanjutnya pulang ke Negeri Belanda, itu berarti aku akan berpisah dengan Hananto. Perpisahan itulah  yang membuat hatiku bersedih. Aku merasa sangat kehilangan dan harapan untuk selalu bersama pupus”. Alene menggenggam tanganku dengan erat, kemudian ia melanjutkan cerita lagi.

“Tatkala kendaraan yang kami tumpangi meninggalkan tempat ini, lambaian tangan dan senyuman Hananto masih kuingat dengan jelas.” Terlihat ada senyum di sudut bibir Alene. Cantik sekali gadis ini batinku.

“Tapi apalah dayaku, tak mungkin aku membawa serta sahabatku. Kedua orang  tuaku pasti tidak akan menyetujuinya, demikian pula orang tua Hananto pasti tidak mengizinkannya pergi meninggalkan tanah air yang subur nan elok ini,” kata Alene selanjutnya. 

“Hananto telah mengisi relung hatiku yang paling dalam, bunga-bunga cinta telah bersemi di antara kami. Dia pun tahu bahwa aku mencintainya, hal yang membuat aku bangga Hananto pandai berbahasa Belanda sehingga komunikasi kami lancar.”

Sesekali Alene menghela napas panjang, meneguk air putih di hadapannya dan tanpa memberi kesempatan aku komentar Alene melanjutkan kisahnya.

“Belum dua jam perjalanan kami meninggalkan tempat ini, kendaraan yang kami tumpangi mengalami kecelakaan, aku dan sopirku dirawat di rumah sakit di Magelang, sedang kedua orang tuaku harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya karena luka yang diderita cukup serius. Sejak peristiwa itu kami berpisah.”

“Apakah kedua orang tuamu tidak mencarimu, Lene?” tanyaku memecah kebisuan di antara kami.

“Entahlah, Wit. Sejak saat itu aku hidup sendiri, dan yang sering kulakukan menangisi kesendirianku, hanya dengan menangis hatiku terasa sedikit lega.”

“Sudahlah, Lene. Tak perlu ditangisi berlarut-larut seperti itu. Sekarang ada aku yang akan menghiburmu, semangat ya.”

“Terima kasih, Wit. Senang sekali aku berjumpa denganmu, sekalipun begitu jangan bosan mendengar tangisanku, karena hanya dengan menangis aku merasa lega,” Alene berdiri kemudian duduk di sampingku. Kami pun saling berpelukan. 

“Baiklah, Lene. Hari sudah sore aku harus pulang, khawatir kedua orang tuaku pun akan mencariku juga.”

“Ok, Wit. Hati-hati di jalan, sampai ketemu di lain kesempatan ya”.

Aku pun permisi meninggalkan rumah Alene, buru-buru aku pulang. Di ujung gang sebelum membelok, kutoleh ke belakang memastikan Alene masih di depan pintu rumah memandangiku. Namun, sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak masuk akal telah kualami, baru saja. 

Rumah Alene, rumah joglo itu tidak tampak olehku, tidak ada Alene. Tidak ada rumah kuno yang baru saja aku datangi, yang tampak di depan mata adalah gedung sekolahku, deretan ruang kelas yang setiap hari aku bekerja di tempat itu. Tidak ada yang berubah.

Deg, jantungku seakan berhenti sesaat, ada perasaan takut, takut yang luar biasa. Tetapi kemudian aku tersadar, tidak boleh takut sebab kami hidup di dunia yang berbeda. Sejenak,  kebersamaan yang kami jalin begitu indah. 

Kupandangi laboratorium sekolahku, barangkali gedung tersebut yang tampak sebagai rumah Alene. Rumah tempat tinggal Alene dan keluarganya pada  tahun 1839, sebagaimana kulihat kalender yang tergantung di dinding rumah Alene menunjukkan angka tahun tersebut. Ach entahlah….

Perjalanan panjang ke masa lalu bersama Alene menjadi inspirasiku untuk menulis cerita ini. Aku masih teringat pesan Alene jangan bosan mendengar tangisanku, karena hanya dengan menangis aku merasa lega. Pesanmu akan kuingat selalu, semoga teman-temanku yang pernah mendengar tangisanmu tidak lagi merasa terganggu. Selamat berpisah Alene, kita beda dunia. Bersama sejenak dalam perbedaan, untuk saling menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Aku senang sempat mengenalimu….

*Telah diterbitkan di buku Alene, Noni Belanda 2017