FLASHNEWS

Cerpen : Dibawah Patung Garuda


Oleh : Indah Wiharti

Namaku Raditya Bagus Prakoso, biasa dipanggil Radit. Hari ini, usiaku genap 13 Tahun. Tidak ada perayaan menyambut ulang tahunku ini. Maklum aku berasal dari sebuah dusun yang jauh dari keramaian di Kabupaten Temanggung. Keluargaku tidak mengenalkan aku dengan budaya barat, berfoya-foya dan menghamburkan uang untuk hal yang dianggap tidak penting seperti acara perayaan ulang tahun itu. Meskipun demikian setiap diundang acara ulang tahun teman sekolah rasanya ingin merayakan momen spesial itu, bersama keluarga dan teman-teman sekolah. Orangtuaku lebih menekankan pendidikan agama dengan mengajari aku untuk hidup sederhana, tekun beribadah, dan prihatin dengan mengajak puasa Senin dan Kamis. Aku menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, tanpa paksaan dan berharap kelak aku menjadi orang yang sukses. 

“Dit, ke kantin yuk,” kata Dion teman sebangkuku.
“Maaf, sekarang hari Kamis. Aku lagi puasa jajan,” kataku sambil tersenyum.
“ Oalah…aku juga lupa, sorry ya kawan,” sambil tersenyum Dion pergi meninggalkan aku sendirian di dalam kelas. Aku memilih pergi ke Perpustakaan sekolah untuk meminjam buku Novel Karya pengarang terkenal Buya Hamka yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck". Tugas dari guru Bahasa Indonesia hari ini adalah membaca salah satu novel dan membuat sinopsisnya. Aku lebih memilih novel karya Buya Hamka ini karena ceritanya begitu mengesankan. Novel ini menceritakan tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta antara sepasang kekasih (Zainuddin  dan Hayati)  hingga berakhir dengan kematian Hayati. Hayati yang menumpang Kapal Van der Wijck ketika hendak pulang ke kampung halamannya mengalami peristiwa  tragis, di tengah-tengah  perjalanan kapal tersebut tenggelam. Namun sebelum kapal tenggelam Zainuddin mengetahui bahwa sebenarnya Hayati masih mencintainya. 

Bel tanda masuk telah berbunyi  aku segera memasukkan novel ke dalam tas, kuatir ketahuan guru kalau sedang membaca novel. Bisa-bisa novelnya disita dan yang pasti kena hukuman.
“Dit, PR-mu dah selesai?” pertanyaan Dion membuyarkan lamunanku.
“Sudah, tapi kurang yakin dengan jawaban nomor lima. Agak kesulitan menyelesaikan soal ini.”
“Nomor lima ya, bentar saya lihat dulu,” Dion meneliti jawaban soal matematika yang dikerjakan tadi malam. “ Punyaku hasil akhir 15.” kata Dion.
“Alhamdulillah, sama berarti jawabanku benar ya,” kataku senang. Aku memang tak secerdas Dion, teman sebangkuku ini jago matematika. Semester kemarin ketika mengikuti lomba mata pelajaran matematika di tingkat kabupaten Dion jawaranya. Aku banyak bertanya tentang pelajaran yang terkenal sulitnya ini kepada Dion daripada bertanya kepada Guru Matematikaku. Kalau teman sebangkuku jago matematika maka aku lebih suka membaca dan diskusi tentang berbagai masalah aktual yang terjadi di Indonesia. Terutama masalah sosial dan kemanusiaan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.
*******

Termenung sendiri malam ini, membayangkan kejadian siang tadi ketika aku pulang sekolah  berjalan bertiga, aku, Dion, dan Ratna. Sepanjang perjalanan pulang sekolah sampai di seberang jalan sebelum kami berpisah tak menyia-nyiakan waktu untuk bersenda gurau. Setiap aku memandang wajah Ratna apalagi memandang bola mata gadis itu, seperti ada tusukan tajam yang menghujam hatiku, ada desiran halus yang merasuki jiwaku. Nada-nada indah mengalun memenuhi jiwaku, senandung lagu cinta mewarnai hari-hariku, sempat pula aku merasa kurang suka manakala Dion ada di samping Ratna. Yach, Ratna gadis mungil bermata indah, mata indah bola pingpong kata Iwan Fals cocok sekali untuk menggambarkan keindahan dan kecantikan gadis ini, wajah ayu polos, tanpa polesan  bedak apapun tapi tetap cantik. Aku menyukai gadis seperti ini, namun aku tidak akan merusak persahabatan kami, masih teringat jelas janji kami bertiga.

“Janji ya…akan bersama selamanya,” Dion memulai percakapan waktu itu.
“Ok, kita buat peraturan ya. Kita harus saling mensuport, saling membantu, selalu kompak, jangan lupa kita bersahabat. Tidak boleh pacaran, tidak boleh ingin memiliki satu sama lain, jangan sampai persahabatan ini berantakan gara-gara salah satu diantara kalian naksir aku hahahaha…,” Ratna membuat peraturan sendiri tapi dengan berat hati aku dan Dion setuju dengan peraturan yang dibuat Ratna. Itu berarti menutup kemungkinan bagiku untuk mengutarakan isi hati kepada gadis pujaan hatiku ini, biarlah kusimpan saja, rasa ini…. 
*******

Pagi yang cerah….
Sengaja aku datang lebih pagi dari biasanya,  aku telah sampai di sekolah ketika  jam baru menunjukkan tepat pukul 06.20 menit WIB. Masih sepi, baru satu dua siswa yang datang, bahkan kantor guru masih terkunci belum ada tanda-tanda bapak/Ibu guru yang datang.  Aku berdiri di depan kelasku memandangi kokohnya Gunung Sumbing dengan hamparan tanaman tembakau di lereng gunung itu, matahari perlahan menyinari seluruh badan gunung ada harapan disana tentang masa depanku, aku akan membangun kotaku ini suatu hari nanti. Aku sengaja duduk sendiri di bawah Patung Garuda di depan kelasku, di tempat itu aku bersumpah akan belajar sungguh-sungguh, aku harus sukses suatu hari nanti aku akan kembali ke kota ini, ke sekolah ini dan aku akan melihat jejak dan goresan tanganku di bawah patung garuda ini dengan kata “Bismillah, aku akan belajar sungguh – sungguh. Aku akan kembali ke tempat ini dengan bangga karena aku menjadi salah satu murid yang sukses di kemudian hari. Goresan tanganku mungkin akan segera hilang tapi aku yakin apa yang kutulis tadi adalah titik awal keberhasilanku kelak, dan patung garuda ini yang menjadi saksi bisu  sumpah dan janjiku. Di bawah Patung Garuda aku bersumpah……….”

Setelah banyak  siswa yang datang  ke sekolah aku segera meninggalkan Patung Garuda untuk  masuk  ke kelas, sudah jam tujuh kurang sepuluh menit tetapi baru ada beberapa gelintir siswa di kelasku, Dion dan Ratna juga belum tampak batang hidungnya. Untuk mengisi waktu aku segera mengambil  tugas bahasa Indonesia membuat Sinopsis Novel kemarin, hari ini pekerjaan rumah tersebut akan dibahas di depan kelas. Salah satu pelajaran yang saya sukai adalah Bahasa Indonesia, bukan hanya pelajarannya yang saya sukai akan tetapi guru Bahasa Indonesia menjadi guru idolaku. Beliau selalu hadir tepat waktu, disiplin, mengajar dengan sungguh-sungguh, ketika memberi PR pasti dibahas dengan tuntas. Menjelaskan materi dengan gamblang, mudah dipahami, jika kelak aku bekerja maka kedisiplinan beliau akan saya contoh.

Satu tahun kemudian,
Tak terasa sudah tiga tahun saya belajar di sekolah ini, sebentar lagi saya akan meninggalkan sekolah tercinta ini, sekolah yang memberiku banyak ilmu, menenamkan karakter baik dan kuat. Memberiku banyak pelajaran tentang kehidupan, tentang cinta kasih, tentang masa depan. Tak lupa sebelum saya benar-benar meninggalkan sekolah ini, saya menyempatkan diri berfoto di bawah patung garuda sambil mengenang janjiku beberapa waktu yang lalu. Semoga suatu hari nanti aku kembali ke tempat ini dengan bangga bahwa saya salah satu  alumni yang sukses dan berguna bagi bangsa dan Negara. 

Acara perpisahan hari ini dimulai pukul 08.00  siswa kelas tiga diminta mengenakan baju batik yang terbaik yang dimiliki. Menurut wali kelas dengan mengenakan baju batik  berarti melestarikan budaya bangsa sekaligus mengurangi   tindakan coret-coret, saya sangat setuju dengan kebijakan sekolah. Ketika saya memakai sepatu suara klakson motor Dion terdengar beberapa kali, segera saya berlari ke arah sumber suara dan siap berangkat.

“Kita mampir dulu ke rumah Ratna, nanti berangkatnya bersama-sama,"  kata Dion sambil menstarter sepeda motornya.
“ Ok,” jawabku singkat. Butuh waktu kurang lebih tujuh menit sampai rumah Ratna, ternyata beberapa siswa sudah menunggu kami. 
“ Halo kawan, apa kabar?” Tanya Ridho sambil mengulurkan tangan kepadaku.
“ Halo juga, tidak ketemu tiga hari dah terasa sewindu ya,” kataku. Karena hanya kami yang di tunggu akhirnya kami berangkat menuju gedung Pemuda bersama-sama. Ada rasa sedih, sebab hari ini hari terakhir kami berkumpul mungkin bulan Juli nanti di sekolah yang baru kami masih satu sekolah atau bisa jadi kami berbeda sekolah. Yang jelas sudah menjadi komitmen kami bertiga dimanapun kami sekolah dan menuntut ilmu, akan tetap menjalin komunikasi. 

Acara perpisahan sekolah dimulai tepat pukul 09.00 WIB, sekalipun ada tawa dan canda jujur ada rasa sedih dan kehilangan. Sudah menjadi hukum alam dalam kehidupan ini selalu ada suka dan duka, siang dan malam, gelap dan terang, sukses dan tidak sukses. Perpisahan selalu saja meninggalkan kesedihan, meninggalkan kenangan yang tidak akan hilang sepanjang masa. 

Sorak sorai  dan  tepuk tangan  terdengar  membahana  memenuhi ruangan gedung ini, tatkala kepala sekolah mengumumkan peringkat sepuluh besar  perolehan nilai ujian nasional, dan sejumlah siswa tersebut juga mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Dion sudah pasti mendapatkan nilai sepuluh untuk matematika karena dia jago mata pelajaran ini. Betapa bangganya kedua orang tua dari siswa-siswa berprestasi tersebut, naik ke panggung untuk mendampingi putra-putrinya menerima reward dari sekolah. Aku dan Ratna belum beruntung mendapatkan penghargaan dari sekolah, namun nilai ujian murni kami masih di atas rata-rata sekolah, insyaallah di SMA nanti aku akan belajar lebih serius.
Beberapa bulan kemudian….

Aku, Dion, dan Ratna benar-benar berpisah ternyata kami melanjutkan di sekolah yang berbeda, aku di terima di sekolah paling favorit di kotaku, Dion lebih memilih sekolah lain di Kota Magelang karena ingin mengembangkan potensi akademik terutama matematika. Sedangkan Ratna melanjutkan sekolah di Kota Semarang mengikuti kedua orangtuanya yang bertugas di kota tersebut. Berpisah untuk mengejar cita-cita. Meskipun tidak bisa setiap saat kami bertemu namun harapan kami komunikasi tidak akan  pernah putus. Selesai.
*******

*Telah diterbitkan di buku Bukan Kisah Biasa, 2018